Rabu, 07 Desember 2011

Berlindung dari Bentrokan


Dia adalah Maman Sukirman, Fotografer Harian Seputar Indonesia Biro Sulsel-Sulbar dengan judul foto ‘Berlindung dari Bentrokan’ yang jadi pemenang. Tidak diragukan lagi, cepretan foto pemenang ini cukup kuat, mampu mengiris hati jika melihat, membayangkan jikalau orang tua kita yang menjadi objek dalam foto tersebut.

Foto yang menjadikan bulu kuduk merinding, bagaimana tidak urat wajah Daeng Naba,72 tahun yang menjadi objek foto itu cukup memelas. Memelas atas kekacauan bangsa, menjinjing sendal jepit diatas lumpur dibawah cangkang eskapotor penindas benda-benda keras, mewakili orang-orang bersendal jepit lainnya di Indonesia.

Saya tidak ingin terlalu membesar-besarkan pemenang –Maman Sukirman–, bukan karena saya berteman baik dengan dia, tetapi memang foto yang ia hasilkan memang pantas diajungi jempol. Dimana saat kejadian itu, 9 Desember 2010, puluhan fotografer dari berbagai media ada disana.

Di depan Kampus Universitas Muslim Indonesia (UMI) Makassar, disaat barisan Polisi tengah berhadap-hadapan dengan ribuan mahasiswa yang sedang memperingati hari Anti Korupsi. Dia, mampu melihat celah, seorang kakek yang terjebak diantara dua kelompok manusia yang bertikai tanpa alasan kuat.

Seperti Kang Pepih, hasil jepretan Maman juga punya cerita. Daeng Naba yang menjadi objek fotonya adalah lekaki tua yang sehari-hari berlalu lalang di depan kampus hijau itu. Setiap hari, dia berjalan tanpa kenal lelah mencari nafkah, terkadang memungut sampah plastik untuk kemudian dijual kembali atau mendapat uang pesangon dari mahasiswa yang melihatnya.

Hari itu dia juga berjalan seperti biasa, tanpa merasa terganggu karena memang itu rutenya. Namun naas, hari itu ternyata jalurnya berubah menjadi perang. Karena terlanjur genjatan senjat pecah, –mahasiswa melempari polisi, polisi membalas dengan gas air mata dan semprotan air– mau tak mau kakek tua ini harus berlindung.

Menurut kesaksian Maman, saat itu, Daeng Naba berjalan biasa saja, seketika mendengar letusan senjata, kakek tua ini sontar kaget. Berjalan diatas lumpur –pelebaran jalan– dia lalu melepas sendal jepitnya, mungkin karena matanya perih, dia lalu merangkak mengendur-endus diatas lumpur mencari perlindungan hingga ia temukan cangkang eskapator.

Berselang beberapa detik saja, kakek tua ini berlindung, perang sesunggunya terjadi. Maman yang saat itu berada disudut tidak luput pula imbas dari kejadian itu. Dia terkena semprotan air dan gas air mata. Kameranya penuh dengan lumpur. Maman pun mengakui sempat terjatuh saat bentrokan itu pecah.

Kakek tua yang sempat ia abadikan dalam beberapa scane, saat kejadian itu tak bisa lagi ia lindungi. Setelah beberapa saat kemudian ia mendapat posisi aman, dia kembali menengok kakek tua itu, tapi ternyata sudah diselamatkan oleh warga agar menepi dari bentokan.

Kakek tua itu terlihat trauma, mungkin dia beranggapan kembali ke perang saat kemerdekaan lagi, padahal beda. Perang yang baru saja ia lalui adalah perang tanpa ujung pangkal. Entah esensinya apa, dan dia harus bertindak seperti apa. Seperti masyarakat kebanyakan yang bingung, harus memihak siapa, polisi yang menengakkan keamanan atau mahasiswa yang berjuang atas nama masyarakat.

http://media.kompasiana.com/mainstream-media/2011/07/24/cerita-dibalik-foto-pemenang-pfi-2011/

0 komentar:

Posting Komentar

Recent Posts